Akim Oei, Dari Hidup Prihatin Hingga Jadi Pengusaha Sukses

CEO PT Asri Jaya Mandiri (AJM)

Keberhasilan Tidak datang Dengan Tiba Tiba, melainkan memerlukan doa, usaha dan kerja keras.

Jangan Pernah Takut Dan putus asa

Bekasi, Perempuannusantara.com | Akim Oei, selaku CEO PT. Asri Jaya Mandiri (AJM) dikenal sebagai pengusaha sukses berkat keberhasilannya berbisnis di bidang Suplier Scrab atau supplier besi tua.

Namun dibalik sukses dan keberhasilan yang dinikmatinya saat ini, perempuan asal Solo yang akrab disapa Ci Akim ini menegaskan bahwa semuanya melalui proses yang panjang, bahkan diakuinya sangat penuh pengorbanan dan keprihatinan.

Lalu seperti apa, proses panjang serta suka dan duka perjalanan hidup yang pernah dialami Akim Oei hingga akhirnya mampu menuai sukses?

Diambil dari akun youtube Akim Oei serta komunikasi via WA, berikut kisah perjalann hidup Akim Oei yang bisa diteladani dan dijadikan sebagai sosok perempuan inspiratif.

Saya menjalani hidup ini tidak akan mampu tanpa Tuhan”, ujar Akim Oei kepada perempuannusantara.com (29/03/2023).

Perempuan bungsu dari 8 bersaudara, Akim Aoi yang aslinya bernama Sri Wahyuni tinggal di sebuah dusun terpencil di daerah Jawa Tengah dari keluarga yang bisa dibilang keberadaan ekonominya sangat kekurangan.

Karenanya, masa kecil Akim Oei bisa dibilang tidak berjalan seriang teman teman sebayanya yang bebas bermain dan bersenang senang dengan sahabat dan teman temannya. Sejak kelas 3 SD, Akim Oei sudah harus membantu orang tuanya dengan berjualan makanan ringan dan kue kue yang dibawanya setiap pagi, menjualnya hingga menghitung hasil penjualannya saat kembali kerumahnya.

Namun meski dirasa begitu berat apa yang dialaminya sejak kecil, Akim Oei tetap mengucap syukur karena senantiasa diberi kesehatan, diberikan mamah yang kuat, mempunyai seorang mamah yang sangat tangguh, begitu berat beban penderitaan yang dialami mamahnya, tetapi dia tetap kuat.

Tak berhenti sampai disitu, selanjutnya Akim Oei harus mengalami peristiwa yang paling buruk, saat dunia ini terasa gelap yaitu saat masih berusia sekitar 13 tahun, Akim Oei mendapatkan mamahnya terjatuh dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

“Saat yang paling gelap adalah saat berumur 13 tahun, karena mamah saya meninggal. Disitu saya merasa kehilangan suatu pegangan, kehilangan suatu kendali, mamah yang selalu menemaninya tidur, memberi nasehat dan menceritakan tentang kasih supaya kita selalu mengasihi sesama, kita mengasihi orang yang kekurangan”, ungkapnya dalam rona kesedihan yang mendalam.

“Saya sangat menghormati dan menghargai mamah saya, karena beliau adalah sosok wanita yang menjadi panutan saya.”, tambah Akim Oei.

Akim Oei

“Satu hal yang tidak pernah saya lupakan, kalau hari ini mamah saya hanya punya satu piring nasi, tetapi ada orang lain yang membutuhkan, maka mamah saya akan berikan piring nasi itu pada orang yang lebih membutuhkan. Dia membiarkan kami, lebih baik kami tidak makan dan menahan lapar, tetapi orang yang membutuhkan itu boleh makan.” Paparnya.

“Ini satu pelajaran yang tidak mungkin saya lupakan. Satu contoh yang tidak mungkin saya lupakan sampai hari ini.”, tegas Akim Oei.

Kepergian mamahnya, membuat Akim Oei merasa kehilangan satu sosok pribadi yang menjadi pegangannya, yang menjadi tumpuan dan menjadi curahan hatinya. Sehingga setelah ditinggal mamahnya, Akim Oei memutuskan untuk merantau ke kota yang lebih besar, ke kota Wonogiri, ikut tinggal bersama kakaknya yang sudah berumah tangga.

Tapi disitupun Akim Oei tidak tinggal diam. Ikut membantu kakak agardirinya juga bisa melanjutkan sekolah dari SMP hingga berhasil lulus dari SMA Kristen Wonogiri di tahun 1987

Selanjutnya, Akim Oei yang masih berusia 17 tahun, hijrah ke Jakarta, tanpa saudara, tanpa keluarga, hanya mencoba mengadu nasib, berbekal apa yang dikenalkan dari saudaranya  untuk bekerja di suatu apotik.

Akim Oei (Ci Akim)

“Tentunya bukan suatu perjuangan yang sangat mudah, terpisah dari keluarga, terpisah dari orang orang yang dikasihinya, dan sebatang kara harus mengadu nasib guna bertahan dan memperbaiki hidup.”, imbuh Akim Oei.

Bukan hal mudah berjuang seorang diri di kota besar, namun dengan tekad harus bisa, harus mandiri, tidak boleh merepotkan siapapun, mulai dari melakukan pekerjaan dari di Apotik hingga berpindah kerja di PBF.

Seiring perjalanan waktu, cobaan hidup tenyata masih dialami Akim Oei atau Ci Akim. Dari harus mengalami kegagalan dalam rumah tangga dengan harus membawa dan menghidupi anak anaknya yang masih kecil kecil.

Namun karena merasa sudah terbiasa dengan penderitaan, terbiasa dengan kerja keras yang dilaluinya sedari kecil, Ci Akim hanya berharap dan bersandar kepada Tuhan, bahwa ia menjalani hidup ini tidak akan mampu tanpa Tuhan,

Berbekal teladan dari mamahnya yang tetap ada di diri dan jiwanya, serta kasih yang ditanamkan mamahnya di dirinya, sampai saat ini Akim Oei bisa dibilang boleh berhasil, namun semuanya tidak terlepas dari didikan mamahnya, tidak terlepas dari kasih mamahnya.

“Saya sungguh bersyukur memiliki seorang mamah yang begitu mengasihi saya, dalam segala penderitaan, mamah saya tidak pernah sekalipun mengeluh, dan menerima semuanya dengan lapang dada”, ujar Akim Oei.

“Dan saat ini, kalau usaha saya boleh dibilang bisa mencapai keberhasilan, saya boleh memberkati banyak orang, saya boleh berbagi kasih banyak orang, ini karena saya melihat orang orang yang susah, saya melihat orang orang yang dalam penderitaan, hati saya bergejolak, saya tidak bisa tinggal diam, karena apa? Karena dulu saat saya kecil, saya pun mengalami hal yang sama.”, ungkapnya lagi.

“Jadi kalau saat ini saya boleh dibilang telah meraih kesuksesan, saya sungguh bersyukur dan saya terapkan kasih itu, saya terapkan apa yang telah mamah lakukan dalam diri saya itu bagi orang orang yang saat ini membutuhkan.”, tegasnya lebih lanjut.

Akim Oei (Ci Akim)

“Perjalanan yang tidak mudah, pekerjaan yang tidak mudah yang saya lalui, tetapi saya hanya bersandar dan berharap kepada Tuhan, bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”, kata Cia Akim.

“Disaat saya menabur kasih dimanapun saya berada, disitu Tuhan tidak pernah melepaskan saya , Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Sehingga kalau saya boleh ada di saat ini, saya sungguh bersyukur dan berterimakasih.”, pungkas Akim Oei. (Fjr) | Foto: Dok. Akim Oei

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button