Dampak Positif dan Negatif Teknologi 4.0 untuk pendidikan

Jakarta | Perempuannusantara.com
Dalam acara diskusi publik tanggal 12 November 2021 di jakarta dan dipandu oleh zakiya S.pd, menurut Saiful SH bahwa Revolusi industry 4.0 adalah sistem transformasi menuju percepatan untuk perbaikan dengan mengintegrasikan dunia online dan lini produksi di industri. Industri 4.0 biasa di kenal dengan istilah cyber physical system, karena merupakan kolaborasi antara siber dengan teknologi otomatisasi. Sehingga dengan adanya internet of things mampu mentransformasikan data tanpa di batasi ruang dan waktu.
Perkembangan industri di mulai pada tahun 1784, dikenal dengan industri 1.0 teknologi uap. Lalu industri 2.0 terjadi tahun 1870 di kenal dengan teknologi listrik, dan industri 3.0 tahun 1969 di kenal dengan teknologi sistem komputerisasi dan elektronik.
Industri 4.0 mulai di kenal pada tahun 2011 dengan sistem internet of things.

Revolusi industri 4.0 bagi dunia pendidikan memiliki dampak positif dan negatif.
Dampak positifnya jelas mempermudah mendapat informasi dan mentranformasi, serta memicu memiliki ketrampilan khusus dalam berkomunikasi secara inovatif.
Dampak negatifnya untuk daerah tertinggal yang belum terjangkau internet  pasti ketinggalan informasi transformasi dll. Maka di butuhkan pemerataan pembangunan infrastruktur penunjang komunikasi di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut saiful Untuk menghadapi revolusi infustri 4.0 perlu di siapkan 3 hal

1. Literasi data
Di prioritaskan keterampilan membaca data, menganalisa dan menggunakan informasi di dunia digital baik bagi guru dan murid.

2. Literasi teknologi
Tenaga pendidik dan peserta didik harus memahami cara kerja mesin dan aplikasinya.

3. Literasi manusia
Tentunya sangat berat bagi tenaga pendidik di industri 4.0 karena harus bisa menjadikan para murid supaya lebih paham dan lebih cerdas daripada teknologi itu sendiri, baik dari aspek humanities, komunikasi dan desain.

Sehingga sesuai dengan harapan Bapak Presiden, terwujudnya sistem pendidikan dan belajar yang merdeka.

Inggar Saputra  M.si peneliti pendidikan, menyampaikan revolusi industri 4.0 bagi dunia pendidikan tetap harus memperhatikan keseimbangan perilaku, adat istiadat, kearifan lokal, dan nilai pancasila. Jangan sampai pemanfaatan medsos menghasilkan manusia melek teknologi tapi kebablasan secara ahlak, dan degradari secara moralitas, sehingga merusak karakter asli bangsa indonesia.
Peran penting nya adalah pendekatan preventif dan tindakan hukum yang tidak mengabaikan humanisme dan nilai HAM yang berlaku universal.

Sedangkan Ibu Masnia M.pd yang merupakan Akademisi  mengatakan, bahwa saat ini yang di siapkan adalah peningkatan kualitas SDM.
Baik pendidikan formal ataupun non formal, semuanya sama harus sedini mungkin memahami literasi teknologi. Sehingga dunia pendidikan mampu bersaing  di revolusi industri 4.0 pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button