Inggar Saputra ,Ruwatan bumi dan Penghijauan Global

 

perempuannusantara.com  .Paska pandemi Covid-19 yang berlangsung secara global, lingkungan hidup seketika mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kita melihat udara mulai terasa bersih sebagai dampak berkurangnya polusi dan kemacetan di kota besar seluruh dunia. Pembatasan aktivitas yang dipicu ketakutan manusia akan terserang virus Corona dan kebijakan pengetatan aktivitas masyarakat turut mendukung keberlanjutan bumi yang lebih hijau, bersih dan segar. Kita memang harus mengakui ekonomi berjalan lebih sulit dan kesehatan terancam, tapi sulit dipungkiri pandemi membantu bumi bisa bernafas lebih panjang, segar dan memberikan kebermanfaatan maksimal bagi kehidupan umat manusia.

Kondisi bumi yang memiliki banyak waktu “istirahat” dari kegaduhan polusi yang serba kotor, mendorong manusia mulai berfikir bagaimana terus melestarikan bumi. Pandemi mendidik manusia mulai melirik bagaimana melestarikan alam semesta dan menemukan cara hidup berkelanjutan pasca pandemi. Kita mulai mendorong terciptanya konsensus nasional dan global dalam menciptakan sebuah perubahan gaya hidup baru yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan manusia dalam berbagai aspek kehidupan yang multidimensional. Gaya hidup yang bersih, peduli kepada protokol kesehatan, makin maraknya wacana ekonomi hijau adalah sebagian diskursus intelektual yang muncul ke publik sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bumi yang makin terancam belakangan ini.

Dalam mendukung pemulihan dunia paska pandemi, pemerintah Indonesia dalam ajang Presidensi G-20 mengadakan kegiatan ruwatan bumi sebagai bentuk ajakan mengenalkan masyarakat dunia agar kembali berpihak ke bumi dalam kesehariannya. Kata ruwatan sendiri berasal dari bahasa Sunda, yaitu ruwat yang diartikan memelihara atau mengumpulkan, sebuah kata yang berarti mengumpulkan segala hasil sumber daya alam sebagai manifestasi syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ruwatan bumi umumnya hadir paska bencana, sebagai ajang meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memberikan persembahan terbaik dari alam agar terhindarkan dari bencana alam serupa.

Dalam hal ini, kita dapat memandang ruwatan bumi dalam tiga perspektif utama. Pertama, ruwatan bumi merupakan bentuk kearifan lokal dan keragaman budaya asli Indonesia yang berusaha diangkat ke tataran internasional. Sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya, ajang ruwatan bumi merupakan bentuk promosi Indonesia dalam mengenalkan budaya terbaiknya sehingga diakui dunia. Ini merupakan langkah maju dari segi kebudayaan kita, dimana kebudayaan daerah yang menjadi inspirasi kekayaan budaya nasional didorong menjadi kebudayaan dunia sebagai manifestasi peradaban global, sebagaimana amanat pasal 32 UUD 1945.

Kedua, agenda ruwatan bumi jelas merupakan bakti nyata pemerintah dan masyarakat Indonesia kepada masyarakat internasional yang menginginkan pemulihan bersama setelah dilanda pandemi yang meruntuhkan perekonomian global dan mempengaruhi bidang kehidupan manusia lainnya. Dukungan Indonesia dalam bentuk ikhtiar ruwatan bumi merupakan aksi nyata bagaimana lingkungan hidup menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia yang membutuhkan dukungan masyarakat dunia. Agenda ruwatan bumi juga menjadi bentuk diplomasi Indonesia dalam mendukunt dunia yang lebih ramah, peduli, dan bersahabat kepada bumi sebagai tempat tinggal bersama ekosistem makhluk hidup termasuk manusia di dalamnya.

Ketiga, ruwatan bumi menjadi “alarm” bagi manusia agar semakin cepat beradaptasi dengan kehidupan baru di era ekonomi digital, beraktivitas secara online, mengurangi mobilitas di jalan raya yang menyebabkan polusi udara dan mengurangi sampah agar terbangun ekosistem ekonomi hijau. Ruwatan bumi sekaligus mengajak kita mengurangi eksploitasi alam khususnya migas yang merusak lingkungan hidup dan industri kertas yang bersumber dari penebangan pohon sebagai bahan bakunya yang terbukti merusak alam semesta. Adanya ruwatan bumi jika dipahami secara mendalam adalah ikhtiar kita bersama menjaga keberlangsungan alam dengan mengurangi berbagai industri perusak alam yang akan mengancam kehidupan manusia. Bagaimanapun bumi dan manusia adalah sebuah kesatuan yang harus mampu bersinergis agar kelak tidak ada lagi kemarahan bumi dalam bentuk bencana alam dan kemanusiaan yang merugikan keselamatan jiwa manusia kelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button