Trending

Mahfud MD Makan Siang Bersama Nelayan Marunda

Sejumlah nelayan Perkampungan Marunda Kepu dan warga sekitar antusias menyambut kedatangan Mahfid MD. Mereka yang tergabung dalam komunitas Rumah Demokrasi ini terlihat sudah menanti kedatangan Cawapres nomor urut 3 itu beberapa jam sebelumnya.

Menuju lokasi pertemuan,Pak  Mahfud yang mengenakan baju batik naik menaiki perahu bersama nelayan dan warga. Tiba di lokasi pertemuan, Mahfud langsung menghampiri booth yang menyediakan makanan dan minuman berbahan mangrove. Mahfud langsung mencicipi makanan dan minuman itu. “Enak sekali ini,” ujarnya.

Setelah itu Mahfud MD langsung membakar ikan hasil tangkapan nelayan. Ia terlihat makan kerang, ikan kue, tongkol, dan sayur kangkung. Ia terlhat sangat lahap menyantap makanan bikinan ibu-ibu yang tergabung dalam Sentra Produksi Ikan Asin atau Sepia.

Mahfud MD menyoroti fasilitas nelayan. Salah satunya soal dermaga yang masih terbuat dari bambu. Padahal air bersih dan dermaga merupakan sumber kehidupan buat nelayan.

“Ini kurang mendapatkan perhatian. Saya melihat airnya keruh agak kotor dan kemudian nelayan bikin dermaga sendiri dari bambu dan sebagainya. Padahal itu salah satu sumber kehidupan mereka,” kata Mahfud.

Indonesia, kata Mahfud, punya kekayaan yang luar. Namun sayang, tidak diimbangi keseriusan mengelolanya.

“Di Natuna di Laut Cina Selatan misalnya, itu banyak sekali kapal-kapal asing masuk dan kita belum cukup punya kemampuan untuk mengamankannya,” ujar Mahfud MD.

Selain makan siang hasil olahan para nelayan, Mahfud yang didampingi Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman ini, sempat dialog dan menampung berbagai aspirasi kelompok nelayan.

“Permasalah masyarakat pesisir sangat banyak pak. Kehadiran bapak di sini membawa harapan buat kami. Masalah klasik kami adalah masalah bahan bakar, kami para nelayan tradisional sehari hanya butuh 10 liter pak. Kampung kami juga tereliminasi pak dengan status abu-abunya,” curhat Arom pada Mahfud MD mewakili para nelayan.

Arom adalah nelayan yang sudah melanglang buana hingga manca negara, mengkampanyekan kondisi pencemaran teluk Jakarta.

Selain persoalan jangka pendek seperti kelangkaan BBM yang harus segera mendapat penanganan cepat, menurut Mahfud, program Indonesia Unggul menuju negara maritim yang demokratis harus terus diperkuat, agar kehidupan nelayan bisa lebih baik.

“Kami akan membuat menuju negara maritim yang demokratis. Membangun maritim itu dari sudut budaya dan dari sudut kekayaan alam. Budaya maritim itu budaya demokratis tapi gotong royong, itu warisan leluhur kita,” ujar Mahfud.

Lebih jauh Mahfud menjelaskan, Indonesia adalah negara yang dua pertiganya adalah laut, sehingga harus kita manfaatkan kekayaan alam dan laut untuk menjadi ekonomi kelautan yang tentu saja memperhatikan faktor-faktor gelogisnya.( Sumber sahabat ganjar ) PN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button