Trending

Mantan KSAU dan elang indonesia Maju dukung Ganjar Mahfud

perempuannusantara.com Jakarta – Mantan kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) sekaligus pembina Elang Indonesia Maju, Marsekal (Purn) Agus Supriatna, mendeklarasikan dukungan kepada pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

“Dukungan ini kami berikan secara penuh dan tak tergoyahkan kepada pasangan Ganjar-Mahfud,” kata Agus dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Elang Indonesia Maju merupakan organisasi yang terdiri atas sejumlah purnawirawan perwira tinggi TNI AU.

Deklarasi dukungan tersebut dihadiri sekitar 100 purnawirawan dengan diiringi pembacaan pernyataan sikap para purnawirawan yang prihatin melihat situasi sosial dan politik Indonesia saat ini.

Agus menilai saat ini demokrasi di tanah air yang dibangun susah payah sejak Reformasi 1998 telah mengalami kemunduran.

Terlebih, katanya, praktik hukum dan kekuasaan saat ini dijalankan tanpa etika, sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 terkait batas usia calon presiden dan calon wakil presiden.

“Ternyata KPU-nya (Komisi Pemilihan Umum) melanggar etika juga. Pembagian bansos (bantuan sosial) pun dijalankan tanpa etika. Orang tanpa etika pasti tidak benar. Satu-satunya yang kita lakukan adalah melawan orang-orang itu,” tambah Agus.

Dia menambahkan kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat luas, penyalahgunaan infrastruktur kekuasaan untuk kepentingan tertentu, serta praktik berpolitik yang semakin menjauh dari nilai-nilai etika dan moral telah merongrong fondasi bangsa.

Menurut Agus, para purnawirawan merasa terpanggil untuk ikut serta dalam upaya menyelamatkan nilai-nilai yang telah diperjuangkan.

Oleh sebab itu, lanjutnya, para purnawirawan TNI AU melihat sosok pasangan calon Ganjar-Mahfud sebagai representasi kepemimpinan yang lengkap dan dibutuhkan dalam situasi kritis ini.

Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid, mengingatkan bahwa Pilpres 2024 bukan tentang perpindahan kekuasaan semata, tetapi juga tentang kelangsungan nasib demokrasi bangsa Indonesia.

Terlebih, lanjut Arsjad, berbagai bentuk keberpihakan dan tekanan yang dilakukan aparat pemerintah dan aparat penegak hukum telah menodai asas netralitas.

Dia menambahkan rakyat bukannya didorong maju dengan politik berintegritas, tetapi justru disuguhi praktik demokrasi yang mengkhawatirkan.

“Sulit dibayangkan ini terjadi hari ini, setelah lebih dari dua dekade kita melewati reformasi,” ujarnya. ( berbagai sumber ) PN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button